ANNE SRI ARTI: NAIK 1000%!

image

ANNE SRI ARTI: NAIK 1000%!

Memanfaatkan apa yang ada di depan mata dengan semaksimal mungkin dan selalu menggunakan hati menjadi poin penting dalam mengembangkan bisnisnya. Inilah yang dilakukan Anne Sri Arti ketika ia melihat celah-celah untuk memperbesar produksinya. Konsentrasi produksinya pun tak hanya di Sukabumi, tapi sudah menyebar ke Jawa Barat dan Lampung.

“Kalau saya terbatas di Sukabumi saja mungkin perkembangannya akan lebih lambat, karena pasokan bahan baku kan terbatas. Susu itu sifatnya mudah rusak, untuk memindahkan dari satu tempat ke tempat lain butuh biaya besar. Kalau saya bekerja sama dengan peternak di daerah lain, mereka yang akan memproduksi, saya tinggal menampung produknya. Saya sekaligus bisa meningkatkan pendapatan mereka di daerah,” ungkap Anne, bangga.



Salah satu peternak sapi yang menjadi binaan Anne adalah peternak sapi perah di kawasan Pondok Rangon, Jakarta Timur, tempat kami bertemu sore itu. Di tempat ini ada sekitar 60 ekor sapi perah yang mereka piara. Selain menghasilkan susu, Anne juga mendorong mereka untuk memproduksi susu pasteurisasi dan yoghurt. Selain itu, kawasan ini juga menjadi tempat wisata pendidikan sapi perah. Anak-anak sekolah di Jakarta dan sekitarnya bisa datang ke lokasi ini untuk belajar dan melihat bagaimana kehidupan peternak sapi perah.

“Dengan membuat olahan susu sendiri dan membuka peternakan untuk wisata pendidikan, peternak tak hanya menggantungkan hidupnya pada hasil perahnya tiap hari. Ini jelas lebih menguntungkan,” katanya.

Tahun 2014 lalu, wanita yang sudah memiliki jiwa entrepreneur sejak masa sekolah ini juga berhasil keluar sebagai salah satu dari Class of Winners EY Entrepreneurial Winning Women. “Semua itu membuka banyak link untuk saya bertemu dengan lebih banyak orang yang pada akhirnya menghasilkan kerja sama untuk bisnis saya ke depannya,” ungkap Anne, yang mengaku omzetnya naik hingga 1.000%.

Dua tahun lalu, dalam wawancara femina setelah kemenangannya di Lomba Wanita Wirausaha Femina, wanita yang gemar memasak ini mengaku mimpi terbesarnya adalah gerakan minum susu yang ia lakukan di Sukabumi bisa dilakukan di seluruh Indonesia. Apa yang menjadi cita-citanya ini, sekarang mulai terwujud. Bekerja sama dengan salah satu perusahaan farmasi dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Anne akan memulai program Gerakan Minum Susu untuk anak-anak sekolah di Jakarta.

“Program ini rencananya berjalan pada tahun depan, sekarang kami sedang menggodok proses pembuatan dan packaging-nya. Harapan saya, ketika gerakan minum susu ini berlangsung diterapkan di ibu kota, akan banyak daerah lainnya di Indonesia yang tertarik untuk melakukan hal serupa,” ungkap Anne.

Cita-cita ini didasari oleh penelitian yang ia lakukan secara sederhana selama empat tahun lebih ia menjalani program gerakan minum susu ini, ada banyak manfaat kesehatan bagi anak-anak di sekolah dasar. Misalnya saja, anak yang sering tidak masuk karena sakit, absensinya jadi lebih bagus. Anak-anak yang mengantuk di kelas saat jam belajar dan pingsan saat upacara bendera pun berkurang.

“Gerakan minum susu yang saya lakukan itu memang di sekolah-sekolah pinggiran yang banyak anaknya tidak mengonsumsi susu atau olahan susu karena masih termasuk barang mahal. Saya ingin melihat dampaknya bagi anak-anak, maka saya melakukan perbandingan antara sekolah yang ikut program dan yang tidak,” jelasnya. Tahun lalu gerakan minum susu ini juga menarik perhatian universitas di Addelaide, Australia, yang bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk melakukan penelitian tentang dampak gerakan ini bagi anak-anak.

Saat ini bisa dikatakan Anne mendedikasikan hidupnya untuk meningkatkan kehidupan peternak sapi perah. Tapi, belakangan ia juga ikut membantu para petani untuk memasarkan produk pertaniannya. Ketika banyak petani tomat mengeluhkan harga tomat yang anjlok di pasaran hingga tak sedikit yang membiarkan tomatnya terbuang dan membusuk, Anne membantu mereka membuka pasar. Kesuksesannya mendistribusikan ribuan tomat ini menggerakkan hatinya untuk membantu petani-petani lainnya.

Lewat jaringan yang dimiliki, ia akhirnya bisa bertemu dengan Rachmat Gobel, mantan Menteri Perdagangan, dan duduk bersama mencari solusi untuk memasarkan hasil pertanian. Ia juga menceritakan tentang bagaimana kehidupan petani dan tekanan yang mereka dapatkan untuk memasarkan produknya. Dari hasil jalan-jalannya ke berbagai daerah, Anne menemukan sebenarnya ada banyak potensi buah dan sayuran lokal berkualitas. Sayangnya, semua itu tidak dikelola dengan baik.

“Ya, harus diakui, pasar kita lebih melirik buah dan sayuran impor daripada produksi lokal. Alhasil, serapan pasar akan produk mereka kecil. Selain itu, produk kualitas terbaik ini juga lebih banyak yang diekspor,” ungkap Anne, yang mengaku tak mencari untung di pertanian.

Sebagai pebisnis, wanita yang juga menjadi Wakil Ketua Umum Yayasan Kedaulatan Pangan Nusantara ini mengibaratkan bisnisnya seperti menanam pohon buah. “Kita bisa menanam dan merawatnya, tapi manis buahnya tak harus dicicipi semua. Kita bisa saja dapat buah manis dari pohon yang lain,” katanya. Karena itu, ia tak pernah ingin menutup kesempatan orang lain untuk berkembang dari imu-ilmu yang dimiikinya, karena ia percaya bahwa rezeki akan datang dari ‘pohon’ yang lain. (f)