Rajatani

Provinsi Bengkulu mengekspor sebanyak 8.500 ton cangkang sawit perdana, menggunakan kapal tongkang TB Hub 19/BG HIGHLINE 52, dengan tujuan Mahachai Port, Samut Sakhon, Thailand.

Cangkang sawit (Palm Kernel Shells) itu dikirim melalui Stockpile POM, Kuda Laut Sejahtera, Pelabuhan Pulau Baai, Pelindo II, Kelurahan Teluk Sepang, Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu.

Di mana ribuan cangkang sawit itu disalurkan perusahaan Makmur Agro Satwa (MAS) Group, yang dibeli perusahaan Paprapat Co.,Ltd, Thailand.

Chief Executive Officer (CEO) dan Founder Makmur Agro Satwa (MAS) Group, Anne Sri Arti mengatakan, pihaknya mengekpor ke negara Thailand, sebanyak 8.500 ton cangkang.

Ribuan cangkang itu, kata Anne, berasal dari 8 perusahaan pengolahan Crude Palm Oil (CPO) di Provinsi Bengkulu. Tahap awal, kata Anne, per bulan hanya mengekpor 1 kapal tongkang bermuatan 8.500 ton cangkang.

Namun, lanjut Anne, tidak tutup kemungkinan ekpor cangkang sawit akan mengirimkan 3 kapal tongkang per bulan, dengan masing-masing kapal tongkang bermuatan 8.500 ton atau setara 25.500 ton cangkang sawit.

“Ekpor pertama ini satu kapal tongkang dengan kapasitas 8.500 ton cangkang sawit per bulan dengan negara tujuan Thailand. Kedepannya, per bulan akan mengekpor 3 kapal tongkang, dengan tujuan negara Jepang,” kata Anne, Selasa (26/7/2022).

Ditambahkan, Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan, Direktorat Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian RI, Merrijantij Punguan Pintaria mengatakan, nilai ekspor di Bengkulu, tahun 2021 mengalami kenaikan dari tahun 2020.

Ekspor, kata Merri, berperan penting dalam meningkatkan pendapatan daerah yang berdampak pada peningkatan penyediaan lapangan kerja.

Namun, lanjut Merri, produk ekpor tersebut belum berkembang dan didominasi hanya 4 komiditi. Seperti, batu bara, sawit, cangkang sawit, dan kopi.

“Produk yang diekspor tersebut masih berbentuk barang mentah. Bahkan, belum semua produk yang diekspor tersebut melalui Provinsi Bengkulu,” jelas Merri.

Terkait dengan ekspor cangkang sawit, terang Merri, sudah dilakukan dari tahun-tahun sebelumnya. Yakni, tahun 2020, sebanyak 44.875 ton.

Lalu, di tahun 2021, sebanyak 62.173 ton, dan tahun 2022, ekspor cangkang dari Provinsi Bengkulu, melalui pelabuhan Pulau Baai, Pelindo II, Cabang Bengkulu. Namun, kata Merri, masih ada pengiriman melalui pelabuhan lain.

“Kami sangat menyambut baik ekpor dengan negara tujuan Thailand ini, tentu ini akan menambah jumlah ekspor dari Provinsi Bengkulu,” terang Merri.

Untuk memacu pertumbuhan ekspor yang lebih cepat, terang Merri, pemerintah telah membentuk kelompok kerja nasional peningkatan ekspor (KNPE).

KNPE, terang Merri, merumuskan kebijakan jangka pendek, untuk menciptakan iklim kondusif, yang dapat memperluas dan mengembangkan pasar ekspor.

“Kewenangan dalam penanganan ekspor melibatkan ba hak instansi terkait. Baik sektoral maupun non sektoral. Instansi tersebut dapat bekerjasama untuk bahu membahu dalam meningkatkan ekspor Bengkulu,” jelas Merri.

Sementara itu, General Manager PT Pelindo II, Cabang Bengkulu, Hadi Nurmayadi mengatakan, untuk pelabuhan Pulau Baai Bengkulu, seluruh Kapala bermuatan besar sudah bisa masuk ke pelabuhan.

“Sudah tidak ada kendala lagi. Kapal bermuatan 50 ribu ton pun sudah bisa masuk ke pelabuhan Pulau Baai, jadi tidak ada kendala lagi,” pungkas Hadi.

Leave a comment

Your email address will not be published.

EnglishIndonesian