ANNE SRI ARTI : Konsisten Memajukan Para Petani

image

ANNE SRI ARTI: MENCIPTAKAN PASAR PASTI

Medio 2015, petani tomat di Sukabumi dalam kondisi yang sangat menyedihkan. Berton-ton tomat yang dipanen para petani dibiarkan membusuk gara-gara harga komoditas itu anjlok di pasaran.

Kesedihan para petani ini membuat Annie Sri Arti turut terpukul. Bagaimana tidak? Petani tomat tersebut adalah petani binaannya yang tergabung dalam Koperasi Makmur Agro Satwa. Tidak ingin tinggal diam, akhirnya Anne berinisiatif untuk menawarkan tomat-tomat itu kepada jaringan pengusaha yang dimilikinya.

Berkat jejaring yang dimilikinya, tomat hasil panen para petani itu ludes terjual. “Saya berhasil menjual 42 ton tomat ke Jakarta. Semua terjual dalam waktu 5 hari. Dari yang tadinya hanya dihargai Rp200 per kilo-Rp300 per kilo, di Jakarta saya bisa jual Rp4.000 per kilo. Saya lakukan itu semua. Menteri Perdagangan waktu itu, Rachmat Gobel juga terlibat. Saya menghubungkan pasar yang terputus. Jadi ada pasar pasti untuk petani,” kenangnya.

Pola bisnis yang membentuk pasar yang pasti bagi para petani bukanlah formulasi yang ditemukannya dalam semalam. Dia harus mengalami jatuh bangun dalam berbisnis. “Pada 2009, saya sempat mengalami kebangkrutan parah dari bisnis di luar agribisnis. Utang saya di mana-mana, tidak ada aset pula karena semua disita pada waktu itu.” katanya.

Berada dalam titik terendah tidak membuatnya pantang menyerah. Justru di tengah keterpurukan tersebut dia bangkit dengan membuka bisnis olahan susu sapi seperti yogurt dan puding. Bermodal kedekatannya dengan peternak sapi dan modal mesin pendingin yang didapatkannya melalui pinjaman dia memulai bisnis barunya.

Bisnisnya ini berjalan cukup baik untuk beberapa lama. Awalnya produk makanan olahan dari susu itu sempat menjadi tren. Sayangnya, bisnis barunya ini kembali gulung tikar. Masalahnya karena bisnis makanan ini sudah tidak lagi digemari khalayak.

Padahal, produk olahan yang dibuatnya ini berhasil membawanya menang dalam beragam kejuaraan inovasi dan produk pertanian. Sejak 2012 hingga 2016 Anne selalu membawa pulang beragam penghargaan tingkat kota hingga nasional, yang diberikan oleh pemerintah.

“Saya menyadari, kalau begini terus maka tidak akan bisa untung. Apa lagi para peternak karena risikonya besar, seperti barang kembali, atau tidak terserap pasar. Saya lihat para peternak malah jadi mengurangi pakan sapi untuk menekan biaya produksi. Akibatnya, susunya jadi tidak berkualitas,” jelasnya.

Anne kembali memutar otak untuk mencari formulasi pasar yang lebih pasti. Akhirnya dia mencoba membuat Gerakan Minum Susu (Gerimis) sebagai gerakan sosial sekaligus gerakan pemasaran produk peternak yang menguntungkan buat semua orang.

Setiap siswa dapat menikmati susu sapi setiap hari dengan membayar Rp1.000 per pekannya. Gerakan itu semakin meluas dan melibatkan 386 sekolah di Sukabumi dan Bogor. Pada waktu itu, dia harus menyediakan 600 liter susu per hari untuk memenuhi kebutuhan dua wilayah tersebut.

Melalui Koperasi Makmur Agro Satwa yang didirikannya, Anne berhasil memangkas rantai produksi dan distribusi yang sangat panjang antara petani dan konsumen. Dengan demikian maka risiko produk kembali atau tidak terserap dapat diminimalkan. “Kalau ditanya ada untungnya atau tidak? Ya jelas untung meski cuma Rp1.000,” ujarnya.

Anne menuturkan, gerakannya ini sempat menarik perhatian dunia internasional. Beberapa peneliti dari Universitas Adelaide, Australia pernah meneliti Gerakan Minum Susu ini. Hasilnya, Anne mendapatkan penghargaan dari manajemen universitas pada 2014.

“Waktu itu saya tidak menyasar sekolah-sekolah yang lokasinya dekat dengan rumah saya, yang memang mayoritas orang tuanya adalah petani dan peternak. Alasannya, supaya ada perbandingan yang jelas. Hasilnya, dari penelitian tersebut terbukti memang anak yang minum susu lebih baik, lebih sehat, dan kulitnya juga lebih halus.”

LANGKAH BESAR



Konsistensinya untuk membesarkan bisnis mencapai puncaknya ketika pada 2013 dia memenangkan dua kategori sekaligus dalam ajang Wanita Wirausaha Femina 2013, yakni Green Entrepreneur dan Social Entrepreneur.

Kemenangannya ini menjadi langkah besar dalam karier wirausahanya. Dia direkomendasikan untuk mengikuti kompetisi yang lebih besar lagi dan kembali dia menyabet penghargaan Class of Winner Ernst & Young Entrepreneurial Winning Women 2014.

Anne mengaku sempat merasa minder bersaing dengan para pengusaha lain yang omzetnya jauh lebih besar dari yang dia dapatkan saat itu. Suaminya Sentot Joko Priyono juga heran ketika Anne berhasil menyabet gelar juara.

Bergabung dengan Ernst & Young membuat Anne mendapatkan pencerahan serta motivasi baru dalam memulai bisnis yang lebih besar. “Saya dibilang bodoh oleh mentor karena seharusnya sudah tidak lagi bermain dengan bisnis yang ‘receh’. Padahal jejaring yang saya miliki memungkinkan untuk membuka bisnis yang jauh lebih besar lagi. Saya merasa terpacu oleh mereka [mentor],” jelasnya.

Dia kemudian memutuskan untuk berhenti membuang energinya mengikuti lomba dan pameran inovasi produk. Dia akhirnya mendirikan PT. Rajatani Agro Nusantara bersama pengusaha Rachmat Gobel yang dikenalnya ketika masih menjabat sebagai Menteri Perdagangan.

“Saya kenal Pak Rachmat Gobel tidak sengaja karena sering bertemu di acara pameran-pameran dulu, dan membantu petani tomat binaan saya dulu. Akhirnya setelah dia tidak lagi menjadi menteri, kami mendirikan bisnis itu,” ungkapnya.

Kemapuan berpikir Anne serta kemampuannya bernegosiasi di lapangan menjadi motor utama berjalannya bisnis budidaya dengan pola kemitraan di perusahaan itu. Dia konsisten mengedukasi petani, memberdayakan, dan menyalurkan hasil panen ke berbagai perusahaan yang menjadi pembeli pasti.

Saat ini, Anne berhasil meraup omzet hingga miliaran per bulan untuk memasok ke sejumlah pabrik di Jakarta dan di luar Jakarta. Selain itu, dia juga masuk pasar ekspor ke Jepang.

TAK BERUBAH



Meskipun sekarang menjadi pengusaha hebat, hal itu tidak mengubah pembawaan Anne yang santai dan mau bergaul dengan siapa saja. “Saya memang dulunya orang lapangan dan bisa bergaul dengan siapa saja,” ujarnya.

Selain itu, dia juga selalu mengedepankan prinsip keterbukaan kepada para mitra kerjanya. Urusan pendapatan dibeberkannya secara terbuka kepada para petani, dan koordinator wilayah. “Semua saling tahu, tidak ada rahasia di sini, dan urusan pembayaran tidak melalui saya, tetapi langsung dari klien,” jelasnya.

Prinsip keterbukaan itu juga yang selalu dia terapkan dalam hubungan keluarga. Anne dan suami yang juga pengusaha sangat terbuka kepada kedua buah hatinya yakni Arighi Geraudi dan Lasata Larasati.

Anaknya yang paling besar mulai terlibat dalam bisnis dengan membuka gerai ritel buah-buahan segar di daerah Cibubur.

“Saya pikir ini baru awalan, dan saya melihat jalannya masih panjang. Saya ingin bisnis yang saya jalankan ini menjadi bisnis keluarga yang dapat dilanjutkan oleh anak-anak saya, sesuai dengan passion dan kemampuan mereka.”