ANNE SRI ARTI: MENCIPTAKAN PASAR PASTI

image

ANNE SRI ARTI: MENCIPTAKAN PASAR PASTI

Berbekal konsep gerakan minum susu di sekolah, Anne Sri Arti mulai mengetuk satu per satu pintu sekolah untuk mengajak bekerja sama. Meski ternyata ide baru itu juga tak semudah yang ia duga. Pasalnya, walaupun konsep sudah matang, dari 10 sekolah yang ia datangi, hanya ada 1 yang mau mencoba programnya. Tapi memang tidak ada prestasi tanpa perjuangan. Tapi, patah semangat tidak ada dalam kamus hidup Anne. Ibu dua anak ini terus berkunjung dari satu sekolah ke sekolah lainnya.

“Ketika menjalankan program ini, saya harus menjelaskan kepada kepala sekolah, lalu dewan guru dan orang tua murid tentang manfaat susu bagi anak. Kepada anak-anak saya juga sosialisasikan tentang susu dan bagaimana mengonsumsinya. Karena produk saya adalah susu pasteurisasi, jadi memang harus dikonsumsi saat itu juga, tidak bisa dibawa pulang,” kata wanita yang sejak masa kuliah sudah mulai berbisnis dengan berjualan sepatu ini.

Sejak mampu menciptakan pasar pasti lewat gerakan minum susu ini, kapasitas produksi MAS makin banyak. Hal ini tentu dibutuhkan pasokan susu yang makin banyak jumlahnya sehingga Anne terus meragkul lebih banyak peternak untuk menjual produk susu murni kepadanya. Jika di pasaran susu murni hanya dihargai Rp4.000 per liter, maka Anne membeli susu peternak dengan harga Rp5.500 per liternya. Tapi, ini tak berarti ia bisa dengan mudah mendapatkan susu murni. Yang terjadi justru para peternak itu tak mau menjual susu kepada perusahaannya karena mereka harus menjual kepada KUD (Koperasi Unit Desa).

“Seumur hidup mereka bergantung pada KUD. Walaupun susu itu dibeli dengan harga murah, mereka mendapatkan bantuan keuangan dari KUD. Gara-gara hal ini juga saya kerap jadi pihak tertuduh kalau asupan susu di KUD berkurang, padahal belum tentu peternak itu menjual semua susunya kepada saya. Tak bisa dipungkiri, di bisnis ini ada banyak pihak yang ‘bermain’,” ungkap Anne, yang kerap mendapat embusan isu-isu tak sedap seputar perusahaannya.

Jika awalnya Anne melawan sistem yang sudah lama ada tersebut dengan ‘galak’, kini setelah bisnisnya makin membesar, ia memilih bermain ‘damai’. Baginya, daripada memperbanyak musuh, lebih baik ia mencari solusi yang menguntungkan. “Sekarang kalau ada peternak yang datang ke saya untuk menyetorkan susunya, saya tanya berapa produksinya. Biasanya setengah saya ambil, setengahnya lagi saya minta mereka pasarkan ke KUD,” katanya.

Kesuksesan program minum susu dan perjuangan Anne mengangkat harkat hidup para peternak sapi perah membuahkan beragam penghargaan. Di antaranya menjadikan MAS sebagai Juara I Pengolahan Susu tingkat Kabupaten Sukabumi, Wakil Jawa Barat untuk mengikuti lomba Adikarya Ketahanan Pangan Tingkat Nasional 2012, sekaligus menjadi wakil Jawa Barat dalam Pengolahan Pemasaran Hasil Peternakan (PPHP) Award 2012.

Atas semua prestasi yang berhasil dicapai, wanita yang menjadi Ketua Umum Ikatan Pengusaha Agribisnis Indonesia ini tak merasa berbesar hati. Ia bahkan mengaku tak percaya diri ketika akhirnya lolos menjadi salah satu finalis Lomba Wanita Wirausaha Femina 2013. “Waktu datang untuk penjurian, saya lihat finalis lainnya punya bisnis yang menarik, omzet yang besar dan sangat percaya diri. Sedangkan saya, merasa bisnis saya belum apa-apa,” ungkap Anne, yang menjadi finalis setelah didaftarkan oleh adiknya, Iwan Taruna, usai membaca femina milik rekan kerjanya.

Anne juga tak menyangka ketika akhirnya ia berhasil merebut dua gelar di Lomba Wanita Wirausaha Femina 2013. Memang, bukan soal omzet yang mencuri perhatian juri kala itu hingga memilihnya menjadi pemenang di dua penghargaan khusus, justru semangat Anne untuk memberdayakan peternak di daerahnya dan tujuan mulianya ingin menyehatkan anak bangsa, membuat ia layak menang. “Bagi saya, bisnis tidak selamanya tentang mendapatkan uang, tapi bagaimana mendapatkan kepuasan hati. Itu prinsip usaha saya, sehingga saya tidak selalu mencari uang,” katanya.

Diakui Anne, kemenangan di Lomba Wanita Wirausaha Femina inilah yang kemudian menjadi cahaya terang dalam bisnisnya. Keberhasilannya mulai dilirik banyak media, ia pun beberapa kali diliput oleh televisi dan radio. Berbekal pengetahuannya yang mendalam tentang peternakan sapi perah, berbagai pihak lantas menghubunginya untuk menjadi pembicara. Salah satunya adalah Departemen Pertanian Repubik Indonesia yang menjadikan Anne sebagai salah satu konsultan untuk sharing ilmu tentang peternakan sapi perah dan pengolahannya kepada peternak-peternak di daerah.

“Sehari-hari saya tak lagi berkutat hanya di kandang sapi dan susu. Saya mulai keliling daerah, berbicara dari satu seminar ke seminar lainnya untuk berbagi ilmu. Semua itu juga saya manfaatkan untuk mengembangkan jaringan bisnis. Saya membuat konsep bisnis baru dengan membuat sentra-sentra susu di berbagai daerah. Saya mengajarkan mereka bagaimana mengolah susu, membagi formulanya, dan pada akhirnya membuka pasar untuk menjual olahan susu,” ungkap Anne, yang membebaskan anak asuhannya untuk membuat merek sendiri. (f)