Sembilan belas tahun lalu dia karyawan sebuah bank swasta Ibu kota. Kini Anne Sri Arti (46) pemilik 4 perusahaan dengan omzet puluhan miliaran rupiah per bulan, konsultan peternakan, dan penggerak peternak serta petani demi kehidupan sejahtera. Jatuh bangun Anne alami untuk mencapai titik ini.

Gagal Bayar Cicilan

Delapan tahun (1992-2000) Anne bekerja di sebuah bank swasta, dari berposisi teller, staf customer service, hingga ditempatkan di bagian umum. Gaji ia sisihkan sekian persen untuk investasi di bidang peternakan di kampung halamannya, Sukabumi, Jawa Barat.

“Saya investasi sapi perah, dari 2 ekor sampai 9 ekor. Saya bekerja sama dengan peternak di Sukabumi,” kisah Anne di kantor Bintang, pekan lalu.

Pada 2000, istri Sentot Joko Priyono itu mengundurkan diri dari bank. Pulang ke Sukabumi, Anne mengelola sendiri sapi-sapinya agar menghasilkan. “Pelihara sapi, tak terasa saya merogoh (kantong) terus,” tutur Anne.

Ternyata penyebabnya, nilai pembayaran susu sapi yang ia terima tidak sesuai harga pokok produksi (HPP). “Susu segar produksi peternak dihargai 3.100 rupiah per liter. Padahal HPP sekitar 4.000 rupiah,” beri tahu Anne.

Ia lantas berinisiatif mengumpulkan 20 peternak sapi di Sukabumi dan membuat kelompok tani yang diberi nama Makmur Agro Satwa (MAS).

“Kelompok ini mengolah susu menjadi yoghurt dengan label MAS. Saya titip jual di warung-warung setempat,” ceritanya.

Produk diminati namun tidak bertahan lama, lantaran pembayaran dari warung tidak lancar. Bersama para peternak, Anne mengajukan pinjaman dana kepada sebuah lembaga pembiayaan leasing.

“Dari pinjaman itu, saya beli freezer untuk menyimpan olahan susu,” ucap wanita kelahiran 9 Januari 1973 ini. Perputaran uang kembali tidak lancar, Anne tidak mampu melunasi utangnya sehingga freezer-nya disita.

Tidak kapok, ia kembali meminjam dana kepada lembaga pembiayaan leasing lain, menggunakan nama adiknya.

“Pinjam uang untuk beli freezer baru. Eh, setelah 8 bulan, freezer kembali disita karena tidak mampu bayar cicilan,” kata CEO PT Makmur Agro Satwa, PT Rajatani Agro Nusantara, PT Aren Mas Nusantara, dan PT Mas Raja Agro Nusantara ini. Meyakini usahanya punya masa depan, dengan nama kakaknya, Anne mengajukan pinjaman dana kepada lembaga lain.

Agar kejadian di atas tak terulang, Anne membenahi sistem usahanya. “Saya pikir produknya tidak salah, karena disukai anak-anak. Saya harus memastikan produk ini punya kepastian pasar, kepastian pembayaran, dan kepastian harga,” bilang Anne.

Omzet Miliaran

Pertengahan 2010, Anne merancang program Gerimis Bagus Mandiri (gerakan minum susu untuk anak usia sekolah secara mandiri), menggandeng sekolah-sekolah dasar setempat.

“Ini tidak pakai anggaran pemerintah, melainkan uang jajan siswa sendiri. Kalau sekolah itu punya siswa 800, mereka semua harus beli produk kami. Beli seminggu sekali, es mambo susu seharga 1.000 rupiah. Dari 10 sekolah, hanya 1 sekolah yang menerima. Karena wajib beli, sulit untuk meyakinkan mereka,” kata Anne.

Berkat kegigihannya, gerakan ini meluas dan melibatkan 368 sekolah di Sukabumi dan Bogor, setelah mengetahui anak-anak SD Bojongkoneng sebagai SD pertama yang ikut gerakan ini merasakan manfaat minum susu. Kesuksesan gerakan ini mengantar Anne meraih penghargaan tingkat kota hingga nasional, seperti Wanita Wirausaha Femina 2013, Ernst & Young Entrepreneurial Winning Women 2014, dan Anugerah Perempuan Indonesia 2015.

“Yang utama buat saya saat menjalankan program dan usaha ini, menarik susu dari peternak dengan harga di atas HPP. Waktu itu KUD membeli 3.100 rupiah per liter, saya 4.500 rupiah per liter,” ungkapnya.

MAS kini memiliki berbagai produk olahan dari susu segar, seperti permen, kefir, dodol, bagelen, stik, pai, karamel, dan puding. Produk olahan susu ini dijual mulai dari 1.000 hingga 100 ribu rupiah.

“Alhamdulillah sekarang omzet puluhan miliar,” sebut Sekjen Ikatan Pengusaha Agribisnis Indonesia, tersipu.

Selain mengelola peternakan sapi perah dan pengolahan susu, Anne antara lain memasok buah dan sayur ke supermarket premium juga katering skala industri.

EnglishIndonesian