Kehidupan para petani dan peternak yang sebenarnya menjadi tulang punggung penyediaan bahan pangan di negara kita memang masih jauh dari kata layak. Berangkat dari kepedulian dan keinginan untuk membantu para peternak sapi perah mendapatkan penghidupan yang lebih baik inilah Anne Sri Arti (42) memulai langkah bisnisnya.    

Kini, tidaklah mudah untuk membuat janji bertemu dengan Pemenang Penghargaan Khusus Social Entrepreneur dan Penghargaan Khusus Green Entrepreneur Lomba Wanita Wirausaha Femina 2013 ini. Belakangan jadwalnya begitu padat sebagai konsultan peternakan di berbagai daerah di Indonesia. “Saya bahkan belum sempat pulang ke Sukabumi. Kemarin baru pulang memberikan pelatihan di daerah, lantas pagi ini ada acara di Jakarta,” katanya, tersenyum. 
    
Lima tahun lalu mungkin Anne,   asal Sukabumi, tidak pernah membayangkan posisi yang ia capai saat ini: seorang wanita pebisnis sukses dengan omzet ratusan juta, konsultan peternakan, dan yang tak kalah penting adalah penggerak peternak lokal untuk mendapatkan hidup yang lebih layak. Hal terakhir inilah yang sebenarnya menjadi penyemangat Anne untuk terus berbuat sesuatu untuk dunia peternakan, khususnya sapi perah. 
    
Ketika memulai bisnis ini pada tahun 2009, Anne menyaksikan bagaimana susahnya kehidupan para peternak sapi perah. Meski para peternak ini menghasilkan susu, sayangnya anak-anak mereka malah tak sempat mencicipi minuman sarat gizi itu. “Mengapa? Karena harga jual susu yang sangat murah membuat para peternak harus menjual seluruh susu hasil produksinya untuk mendapatkan uang,” ungkap Presiden Pengolahan Pemasaran Hasil Pertanian, organisasi yang bermisi mendorong kehidupan petani lokal, ini.
    
Senyum yang sempat tersungging di bibir wanita pemilik perusahaan Makmur Agro Satwa (MAS) ini pun perlahan meredup dan wajahnya menjadi serius ketika ia berkisah tentang bagaimana susahnya hidup sebagai peternak sapi perah. Bayangkan saja, menurutnya, untuk bisa menghidupkan sapi, peternak harus mengeluarkan biaya yang besar, mulai dari pangan, vitamin, dokter hewan, hingga obat-obatan. Tapi, ketika dijual ke pengepul, susu-susu hasil perahannya dihargai murah. Menyedihkan sekali!
    
“Waktu itu, harga susu sapi per liter hanya  Rp2.800 – Rp3.100. Padahal, untuk bisa balik modal saja, peternak seharusnya menjual susu tersebut seharga Rp3.800. Jangankan untuk mendapat keuntungan, yang ada para peternak harus nombok terus-menerus. Biaya untuk hidup sapi pun  makin ditekan. Akibatnya, kualitas susu pun berkurang. Ya, bagaimana mau kasih makan sapi, kalau untuk kebutuhan ia dan keluarganya saja sulit,” kata Anne. 
    
Berangkat dari keprihatinan inilah, wanita yang sempat bekerja di perusahaan perbankan di Jakarta ini, akhirnya memutar otak untuk bisa bertahan hidup setelah keputusannya berhenti kerja dan memboyong keluarganya ke Sukabumi. “Saya lihat, kalau terus-menerus menggantungkan hidup keluarga saya pada sapi-sapi yang saya titipkan di peternak sekitar rumah di Sukabumi, saya tidak bisa makan. Yang ada rugi terus,” katanya. Ia pun lantas mulai mencoba-coba untuk mengolah susu menjadi aneka ragam olahan. Formula pun ia dapatkan dari berbagai sumber untuk membuat susu menjadi yoghurt dan puding, produk awal MAS. 
    
Dengan menjual produk susu olahan, bukan susu murni, Anne berharap akan mendapatkan keuntungan lebih. Saat itu, yoghurt dan puding produksinya ia pasarkan ke warung-warung di sekitar rumah. Awalnya, usaha yang ia mulai dengan pinjaman modal Rp1.000.000 dari sang ibu dan freezer yang mencicil pada leasing ini terlihat menjanjikan. Produknya banyak diminati anak-anak. 

Tapi, semua itu hanya bertahan 6 bulan. Karena tak mampu membayar cicilan, freezer miliknya harus kembali ditarik leasing. “Bingungnya, harus meletakkan semua produk saya di mana. Sampai-sampai ada yang saya titipkan di kulkas saudara dan tetangga,” ceritanya. Bukannya patah semangat, wanita ulet ini justru mencoba kedua kalinya untuk membeli freezer lewat leasing, tapi kali ini menggunakan nama suaminya, Sentot Joko Priyono. 

Tak ingin kembali gagal, wanita lulusan D-3 perbankan ini pun mencoba ragam olahan susu lainnya, maksudnya agar konsumen yang kebanyakan anak-anak  tidak bosan. Ia pun memproduksi yoghurt dalam berbagai kemasan seperti  stick dan cup. Seperti berulang, baru berjalan 9 bulan, leasing mengambil kembali freezer keduanya karena ia tak mampu membayar cicilan.
    
Benturan yang datang bertubi-tubi di awal bisnis ini ternyata membuat mental Anne makin terasah. Sempat bingung, mengapa produknya   laku di pasaran, tapi tidak mendatangkan uang. Ia melihat ada yang salah pada konsep bisnisnya. Ternyata, uang yang ia miliki banyak tertahan di warung-warung tempat ia menitipkan produknya, sehingga membuat produksinya tersendat-sendat.  
    
Setelah memutar otak, Anne sampai pada ide untuk memasarkan susu olahan di sekolah-sekolah lewat gerakan minum susu untuk anak-anak sekolah. “Saya pikir dengan bekerja sama dengan sekolah, saya akan membuat pasar yang pasti untuk produk saya. Karena anak-anak ini akan membeli produk saya satu minggu sekali untuk mereka konsumsi di sekolah,” ungkap Anne, yang memulai gerakan ini pada tahun 2011 di  daerah pinggiran Sukabumi.

EnglishIndonesian