Konsistensinya untuk membesarkan bisnis mencapai puncaknya ketika pada 2013 dia memenangkan dua kategori sekaligus dalam ajang Wanita Wirausaha Femina 2013, yakni Green Entrepreneur dan Social Entrepreneur.

Kemenangannya ini menjadi langkah besar dalam karier wirausahanya. Dia direkomendasikan untuk mengikuti kompetisi yang lebih besar lagi dan kembali dia menyabet penghargaan Class of Winner Ernst & Young Entrepreneurial Winning Women 2014.

Anne mengaku sempat merasa minder bersaing dengan para pengusaha lain yang omzetnya jauh lebih besar dari yang dia dapatkan saat itu. Suaminya Sentot Joko Priyono juga heran ketika Anne berhasil menyabet gelar juara.

Bergabung dengan Ernst & Young membuat Anne mendapatkan pencerahan serta motivasi baru dalam memulai bisnis yang lebih besar. “Saya dibilang bodoh oleh mentor karena seharusnya sudah tidak lagi bermain dengan bisnis yang ‘receh’. Padahal jejaring yang saya miliki memungkinkan untuk membuka bisnis yang jauh lebih besar lagi. Saya merasa terpacu oleh mereka [mentor],” jelasnya.

Dia kemudian memutuskan untuk berhenti membuang energinya mengikuti lomba dan pameran inovasi produk. Dia akhirnya mendirikan PT. Rajatani Agro Nusantara bersama pengusaha Rachmat Gobel yang dikenalnya ketika masih menjabat sebagai Menteri Perdagangan.

“Saya kenal Pak Rachmat Gobel tidak sengaja karena sering bertemu di acara pameran-pameran dulu, dan membantu petani tomat binaan saya dulu. Akhirnya setelah dia tidak lagi menjadi menteri, kami mendirikan bisnis itu,” ungkapnya.

Kemapuan berpikir Anne serta kemampuannya bernegosiasi di lapangan menjadi motor utama berjalannya bisnis budidaya dengan pola kemitraan di perusahaan itu. Dia konsisten mengedukasi petani, memberdayakan, dan menyalurkan hasil panen ke berbagai perusahaan yang menjadi pembeli pasti.

Saat ini, Anne berhasil meraup omzet hingga miliaran per bulan untuk memasok ke sejumlah pabrik di Jakarta dan di luar Jakarta. Selain itu, dia juga masuk pasar ekspor ke Jepang.

TAK BERUBAH

Meskipun sekarang menjadi pengusaha hebat, hal itu tidak mengubah pembawaan Anne yang santai dan mau bergaul dengan siapa saja. “Saya memang dulunya orang lapangan dan bisa bergaul dengan siapa saja,” ujarnya.

Selain itu, dia juga selalu mengedepankan prinsip keterbukaan kepada para mitra kerjanya. Urusan pendapatan dibeberkannya secara terbuka kepada para petani, dan koordinator wilayah. “Semua saling tahu, tidak ada rahasia di sini, dan urusan pembayaran tidak melalui saya, tetapi langsung dari klien,” jelasnya.

Prinsip keterbukaan itu juga yang selalu dia terapkan dalam hubungan keluarga. Anne dan suami yang juga pengusaha sangat terbuka kepada kedua buah hatinya yakni Arighi Geraudi dan Lasata Larasati.

Anaknya yang paling besar mulai terlibat dalam bisnis dengan membuka gerai ritel buah-buahan segar di daerah Cibubur.

“Saya pikir ini baru awalan, dan saya melihat jalannya masih panjang. Saya ingin bisnis yang saya jalankan ini menjadi bisnis keluarga yang dapat dilanjutkan oleh anak-anak saya, sesuai dengan passion dan kemampuan mereka.”

EnglishIndonesian